Kabar kelahiran bayi selalu bikin rumah jadi riuh. Ada tangis pertama, ucapan selamat yang masuk tanpa henti, lalu tak lama muncul pertanyaan klasik dari orang tua atau mertua: "Aqiqahnya kapan?" Wajar saja, sebab hukum aqiqah dalam islam memang erat kaitannya dengan kelahiran anak. Tapi masih banyak pasangan muda yang bingung soal hukumnya, jumlah kambingnya, bahkan cara membagi dagingnya. Tulisan ini merangkum semuanya, termasuk tata cara aqiqah yang diajarkan Rasulullah, dengan bahasa yang enak dicerna.
Pengertian Aqiqah dan Dalilnya
Apa itu aqiqah?
Secara bahasa, aqiqah berasal dari kata "aqq" yang berarti memotong. Dalam istilah fikih, pengertian aqiqah adalah penyembelihan hewan sebagai bentuk syukur atas kelahiran seorang anak, dilakukan pada waktu tertentu dengan aturan tertentu pula. Rambut bayi yang baru lahir juga disebut aqiqah di beberapa riwayat, karena rambut itu dicukur pada hari yang sama.
Dalil aqiqah dalam Islam
Landasan utamanya adalah hadis dari Samurah bin Jundub radhiyallahu 'anhu. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda bahwa setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nasa'i). Ada pula riwayat Ibnu Abbas bahwa Nabi mengaqiqahi cucunya, Hasan dan Husain, masing-masing dengan satu ekor domba (HR. Abu Dawud). Dari dua hadis itu saja sudah kelihatan, aqiqah bukan tradisi buatan orang belakangan. Ia punya akar yang jelas dalam sunnah.
Hukum Aqiqah Menurut Para Ulama
Soal status hukumnya, ulama tidak seragam. Mayoritas, yakni Mazhab Syafi'i, Maliki, dan Hanbali, memandang aqiqah sebagai sunnah muakkadah, artinya sangat dianjurkan tapi tidak sampai berdosa bila ditinggalkan. Sebagian ulama seperti Al-Hasan Al-Bashri dan Ibnu Hazm berpendapat wajib. Sementara dalam Mazhab Hanafi, aqiqah dinilai mubah atau tidak termasuk kewajiban. Perbedaan ini wajar dan sudah berlangsung berabad-abad, jadi tidak perlu saling menyalahkan di grup keluarga.
Hukum aqiqah anak laki-laki dan anak perempuan
Hukum aqiqah anak laki-laki dan perempuan sama-sama sunnah. Bedanya ada di jumlah hewan. Berdasarkan hadis Aisyah radhiyallahu 'anha, untuk anak laki-laki disembelih dua ekor kambing yang sepadan, sedangkan untuk anak perempuan satu ekor (HR. Tirmidzi). Kalau hanya mampu satu ekor untuk anak laki-laki, para ulama tetap menganggapnya sah, mengingat Rasulullah pernah mengaqiqahi Hasan dan Husain dengan satu kambing masing-masing.
Hukum aqiqah jika belum mampu
Ini yang sering bikin orang tua tertekan. Padahal syariat tidak pernah membebani di luar kemampuan. Orang tua yang belum punya dana tidak berdosa, dan aqiqah boleh ditunda sampai rezekinya cukup. Jangan sampai berhutang besar hanya demi pesta, apalagi karena gengsi. Sederhana tapi sesuai tuntunan jauh lebih baik.
Hukum aqiqah setelah dewasa dan aqiqah anak yang sudah meninggal
Bagaimana kalau sampai dewasa belum pernah diaqiqahi? Sebagian ulama Syafi'iyah dan Hanabilah membolehkan seseorang mengaqiqahi dirinya sendiri, sedangkan pendapat lain menyebut tanggung jawab itu gugur setelah anak baligh. Silakan pilih yang paling menenangkan hati, atau tanyakan kepada ustaz setempat. Untuk anak yang meninggal, ulama berbeda juga. Bila bayi wafat setelah hari ketujuh, aqiqah tetap dianjurkan oleh sebagian ulama. Bila wafat sebelum hari ketujuh, pendapatnya terbagi, dan sebagian menilai aqiqah tidak lagi dituntut.
Syarat Aqiqah dalam Islam
Waktu pelaksanaan aqiqah
Waktu terbaik adalah aqiqah hari ke-7 setelah kelahiran. Tanggal lahir dihitung sebagai hari pertama, jadi bayi yang lahir Senin pagi, aqiqahnya jatuh pada Minggu. Kalau di hari itu terhalang, ulama memperbolehkan hari ke-14 atau ke-21, dan jika belum juga memungkinkan, boleh kapan saja ketika sudah mampu. Hukum yang asli tetap longgar.
Jumlah kambing untuk aqiqah dan ketentuannya
Jumlah kambing untuk aqiqah: dua ekor bagi laki-laki, satu ekor bagi perempuan. Itu pegangan utamanya. Sekarang soal ketentuan kambing aqiqah dan syarat hewan aqiqah, yang dipakai ulama mirip dengan hewan kurban:
- Jenis kambing atau domba. Sebagian ulama membolehkan sapi atau unta, tapi sunnahnya tetap kambing.
- Umur kambing minimal satu tahun, atau domba minimal enam bulan.
- Sehat, tidak pincang, tidak buta sebelah, tidak sangat kurus, tidak sakit parah.
- Jantan maupun betina boleh, tidak ada perbedaan.
Tata Cara Aqiqah Sesuai Syariat
Bagi keluarga yang sibuk, ada juga yang memilih menyerahkan urusan penyembelihan dan masak kepada penyedia layanan, misalnya aqiqah pekanbaru yang sudah berpengalaman menangani acara skala kecil sampai besar. Boleh-boleh saja, selama hewan dan prosesnya memenuhi syarat. Sekarang kita masuk ke inti tata cara aqiqah sesuai syariat, langkah demi langkah.
Tata cara aqiqah bayi, dari niat sampai penyembelihan
Urutannya kurang lebih begini. Pertama, bayi diberi nama yang baik. Kedua, rambutnya dicukur. Ketiga, hewan disembelih sambil menyebut nama Allah. Soal bacaan niat aqiqah, tidak ada lafaz khusus dari Nabi, karena niat letaknya di hati. Banyak masyarakat memakai ucapan seperti "Nawaitu an adzbaha 'aqiqatan lithiflii..." lalu menyebut nama anak, dan itu tidak apa-apa selama diyakini sekadar pembantu lisan. Untuk doa aqiqah anak, riwayat yang dipakai ulama adalah: "Bismillahi, Allahumma minka wa ilaika, hadzihi 'aqiqatu (nama anak)." Artinya: dengan nama Allah, ya Allah, ini dari-Mu dan untuk-Mu, aqiqah si fulan.
Penyembelih sebaiknya muslim dan memahami adab menyembelih: pisau tajam, hewan dihadapkan ke kiblat, tidak diasah di depan hewan. Sunnah aqiqah dalam Islam juga menganjurkan tulang tidak dipatahkan ketika memotong, sebagian ulama menyebut ini bentuk optimisme akan keselamatan si bayi.
Tata cara mencukur rambut bayi saat aqiqah
Rambut dicukur habis, bukan sebagian-sebagian. Setelah itu rambutnya ditimbang, lalu disedekahkan senilai emas atau perak seberat rambut tersebut. Dasarnya adalah hadis tentang Fatimah yang menimbang rambut Hasan dan menyedekahkan perak seberat itu (HR. Tirmidzi). Dalam praktiknya, banyak keluarga menyedekahkan uang yang kira-kira sepadan. Dicukurnya pun bukan cuma simbolis lho, karena memang sunnah yang diajarkan.
Pembagian daging aqiqah
Soal pembagian daging aqiqah, para ulama menganjurkan daging dimasak dulu baru dibagikan, berbeda dengan kurban yang boleh dibagi mentah. Pemilik hajat boleh makan sebagian, sisanya dibagikan kepada tetangga, kerabat, dan fakir miskin. Cara membagikan daging aqiqah yang rapi biasanya begini: dimasak jadi gulai atau sup, dikemas per porsi, lalu diantar langsung atau dihidangkan pada acara syukuran. Tidak ada angka baku sepertiga atau setengah. Yang penting tersampaikan, termasuk kepada mereka yang jarang makan daging. Sedekah saat aqiqah paling afdal ditujukan ke orang yang memang membutuhkan, bukan hanya yang sudah mapan.
Perbedaan Aqiqah dan Kurban
Dua ibadah ini sering tertukar. Perbedaan aqiqah dan kurban cukup jelas kalau dibedah satu-satu. Kurban dilakukan setiap tahun pada Iduladha dan hari tasyrik, aqiqah dilakukan sekali seumur hidup seseorang sesudah lahir. Kurban boleh patungan satu sapi untuk tujuh orang, aqiqah menurut pendapat yang kuat tidak boleh patungan atas nama satu anak. Daging kurban boleh dibagi mentah, daging aqiqah lebih utama dimasak. Dan niatnya pun berbeda, satu untuk Idul Adha, satunya sebagai syukur atas anak.
Siapa yang Wajib Menanggung Biaya Aqiqah?
Yang menanggung biaya aqiqah adalah ayah, karena ayah pemegang nafkah anak. Kalau ayah belum mampu, ibu atau kakek boleh membantu, bahkan ada yang menilai sah-sah saja bila biayanya patungan keluarga besar. Yang tidak boleh adalah memaksa orang lain menanggung. Ibadah yang membebani tentu menyalahi semangatnya.
Larangan dalam Pelaksanaan Aqiqah
Ada beberapa hal yang perlu dihindari. Menjual daging atau kulit aqiqah tidak diperbolehkan, apalagi dijadikan upah tukang jagal. Praktik jahiliah mengoleskan darah hewan ke kepala bayi juga dilarang, Rasulullah menggantinya dengan wewangian. Hindari pula acara berlebihan yang mengarah ke pemborosan dan riya, sebab aqiqah itu ibadah, bukan ajang pamer. Terakhir, jangan memilih hewan yang jelas cacat hanya karena harganya murah.
Manfaat dan Hikmah Aqiqah
Hikmahnya banyak. Aqiqah mengajarkan syukur sejak hari pertama anak hadir. Ada nilai sosial di dalamnya, karena tetangga ikut merasakan kebahagiaan. Ia juga menumbuhkan kebiasaan berbagi di rumah yang baru bertambah satu anggota. Sebagian ulama bahkan menyebut aqiqah sebagai perlindungan bagi bayi, sebagaimana makna "tergadai" dalam hadis tadi. Silakan renungkan sendiri, apakah ada cara yang lebih indah membuka perjalanan hidup seorang anak?
Penutup: Panduan Aqiqah Sesuai Tuntunan Islam
Intinya, aqiqah menurut sunnah Rasulullah adalah ibadah yang dianjurkan, bentuknya sederhana, dan pelaksanaannya fleksibel selama syaratnya terpenuhi. Itulah panduan aqiqah sesuai tuntunan Islam dari hari ke-7 hingga pembagian dagingnya. Setelah paham hukum aqiqah dalam islam dan tata cara aqiqah yang benar, tinggal menyesuaikan dengan kondisi keluarga. Kalau sudah ingin mulai merencanakan, silakan cek dulu harga kambing aqiqah supaya anggaran tidak meleset.
Pondok Aqiqah Rizkah
0852-6523-7196
Sumber Rujukan
- Hadis riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa'i tentang aqiqah (Kitab Sunan).
- Ibnu Qudamah, Al-Mughni, bab aqiqah.
- An-Nawawi, Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab, bab aqiqah.
- Wizarah Al-Awqaf Kuwait, Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, entri "Aqiqah".
- Artikel fikih aqiqah di NU Online dan Rumaysho.com.

